dan Tuhankah yang
harus disalahkan ?
“Seorang sahabat terisak isak tepat depanku tak kuasa menghentikan derasnya banyu nan mengalir tanpa bisa terbendung lagi. Ketika orang yang selalu menjadi belahan jiwa, penyemangat raga justru menyisakan luka yang tak akan terlupa sesaat sebelum dipanggil yang KUASA”
Rasanya baru
kemarin aku melihat betapa cerah rona yang terpancar
dari wajah sahabat karibku, maklumlah
baru bebrapa bulan yang lalu dia menunaikan sunatullah
membangun keluarga yang sakinah. Belum lagi kejadian
tersebut terjadi ketika perayaan 6 bulan
pernikahan yyyaaaa... lagi-lagi kecelakaan maut
seakan lagi gencar
mencari mangsa. Kalau kemarin Indonesia berduka atas peristiwa berdarah “TUGU TANI” yang tidak memberi ampun pada
para korbannya sekarang tikungan tirus yang tidak jauh
dari rumah yang dihuni mereka huni justru harus menjadi saksi atas peristiwa na’as itu.
Sesaat setelah kejadian sambil menunggu keputusan dokter dari ruang UGD,
sahabatku langsung memintaku untuk bergegas ke rumah sakit. Setibaku di rumah
sakit, terlihat wajah pucat pasi dan keadaan yang sudah lusuh tak menentu,
kemudian dirangkulnya aku sembari bertanya “Tuhankah yang harus disalahkan?“. Begitu dalam
makna pertanyaannya, sungguh akupun
hanya bisa tertunduk karena tak berani untuk sekedar untuk memberi jawaban yang
mampu menegarkannya. Aku hanya bisa memberikan sugesti agar dia melayangkan
permohonan doa pada ALLAH untuk diberikan kekuatan yang dahsyat agar bisa melewati
ini semua. Yaacch… keyakinanku bahwa ketika kita melihat, ketika itu pula kita
buta. Ada skenario ALLAH yang terkadang belum mampu untuk langsung dicerna kita
sebagai makhluk yang tidak sempurna. Sembari menunggu kabar dari ruang operasi,
aku bersama sahabatku dan ibu mertuanya bertanjak untuk bertamu ke rumah ALLAH
(musholah terdekat). Kamipun sholat berjama’ah untuk memohon kepada Yang serba
Maha agar diberikan yang terbaik atas perkara dunia ini.
Tiga jam kemudian akhirnya terdengarlah
kabar yang cukup melegakan karena masa kritis sang suami sudah lewat. Suasana hening tampak pada ruang TERATAI 03, akan
tetapi suasana heningpun pecah ketika pertama kali sang suami sadar dan menyebutkan
nama seorang wanita. Meski dengan suara yang samar-samar tetapi karena pengucapannya
berulang-ulang, memperjelas bahwa bukan nama sang istri yang mengudara sampai
di telinga seluruh yang ada diruangan. Wajah panik yang tak bisa diungkapkan
pun tergambar di wajah mertua sahabatku, sepertinya dia mengenal sang pemilik
nama yang divokalkan terus menerus oleh anaknya. Entahlah apa lagi ini, sungguh
aku bisa memahami keadaan sahabatku sudah tak punya energi untuk berbicara sepatah
katapun apalagi untuk bertanya siapa wanita itu meski dihatinya sangat ingin
tahu siapa sebenarnya wanita itu? Oleh karena sang suami tak henti -henti menyebut
nama wanita itu, pihak medis pun meminta keluarga untuk membawa sang pemilik
nama tersebut agar bisa menemui pasien.
Beberapa saat kemudian setelah
dijemput oleh adik ipar sahabatku, seorang wanita yang kira-kira usianya lebih
muda beberapa tahun dari usiaku dengan wajah yang turut berduka datang menghampiri
kami di ruangan tersebut. Kedatangannya membuat membuat aku jauh lebih kaget karena
meski kami tidak mengetahui sang pemilik nama tersebut tetapi parasnya tak
asing lagi... nanti dulu??? hiya gadis yang ada dialbum foto... yacch benar aku
mengingatnya!!! Dulu sewaktu 1 hari sebelum pernikahan ketika sedang membantu persiapan
buat hari yang paling sakral tersebut aku menjatuhkan album foto di kamar pengantin
dulu.
Kulihat wajah sahabatku yang berubahsedikit
cerah ketika melihat wajah wanita tesebut yang memang benar-benar mirip dengan suaminya.
Besar harapan wanita itu adalah saudara dari sang suami yang belum sempat
dikenalkan. Terlintas feel buruk di
celah otakku ketika suami dari sahabatku dan aku yakin semua juga akan
memaklumi aku yang sedikit buruk sangka padanya. Lagi-lagi aku terkejut... oh
lebih tepatnya terperanga karena sebuah permintaan maaf yang terucap
seolah memberi makna yang sangat dalam, terlontar kata “maafi kakak ya dek” diantara
samar-samarnya nada yang melantun dari mulut sang suami kepada wanita itu.
OOOhhh... tidak,. bila melihat ekspresi tak rela yang penuh luka dari wanita
itu membuat aku tak sabar untuk bertanya siapa wanita itu dan mengapa harus
meminta maaf padanya??? Aku saja benar-benar ingin tahu, pasti hal yang berpuluh
kali lipat tentunya dirasakan oleh sahabatku yang terduduk lesu dipojok seolah
sudah tak bertulang lagi. Jedah berselang waktu setelah menghaturkan permintaan
maaf, mendadak nafas sang suami seolah hampir menghilang kemudian beberapa saat
setelah itu wanita itu ikut mengalirkan banyu dan mengucapkan “ku sudah rela” dan tak lama
kemudian suami dari sahabatku menghembuskan nafas terakhir.
Aku Baru Sadar... Betapa Tuhan
Berlaku “ADIL” pada umatnya. Ternyata wanita itu adalah wanita yang pernah di
sakiti oleh suami sahabatku. Sudah lama memang tapi luka yang membekas masih
tampak jelas di wajah wanita itu... Sahabatku juga manusia biasa yang pernah salah dan juga
pernah menyakiti seseorang sampai orang tersebut hampir putus asa.
“Terlepas dari segalanya jauh dilubuk hati orang yang
melukai juga ada perasaan bersalah. Walau mulut sulit mengakui, meski orang tersebut
enggan menyadari tetapi tetap saja masih ada hati nurani yang tidak pernah bisa
untuk memungkiri sebuah kesalahan”.
Kejadian ini membukakan mata hati saya,
sedari sanubari saya sebagai manusia biasa yang tak luput dari alfa dan dosa
memohon maaf kepada semua orang serta memohon ampunan kepada Yang Serba MAHA. Gak ada gading yang tak retak,. So jaga dan
dan pelihara agar gading itu tidak pecah. Semoga ini akan menjadi bagian dari perjalan
kita untuk menuju kearah yang lebih baik. AMIN summa AMIN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar